
Pilihan-pilihan selalu membuat kita merenung, setidaknya aku di sini. Disadari benar, permasalahan ini adalah biasa. Terutama bagi orang-orang yang memiliki idealisme, entah apapun itu.
Kebanyakan mahasiswa dibingungkan pada pilihan yang ada, terutama pada masa-masa “tidak jelas”. Lulus belum, visi jauh ke depan belum punya atau sudah punya dan ingin bersegera menggapainya. Lelah pastinya memikirkan ini.
Solusinya? Tentukan dulu visi kita jauh ke depan 10 tahun atau lebih. Diferensiasi ke dalam visi peran, beserta program pencapaian dan target realistis memenuhi misi dari setiap visi peran kita. Ini yang pertama. Kedua, fokus pada setiap tahapan dan konsisten menjalaninya (sepenuh hati). Ketiga, berikan kerja terbaik sekemampuan dan senantiasa berdoá (mendekat pada Allah SWT). Keempat, nikmati proses dan serahkan hasilnya pada-Nya.
Terkait masalah yang kuhadapi, bertolak dari Meaningful Life (ML) 2012 dan In Action 2008 maka setelah tahun ini fokusnya adalah Spesialis dan Berwawasan Global (SBG). Tentu masih ingin kuliah lagi, hanya kalau boleh dirasionalisasi sepertinya ada kata “belum siap”. Baik secara kemampuan bahasa, maupun kemampuan memenej hati. Agak berat, jika harus kuliah tanpa “pendamping”. Terkesan sepele, tapi luar biasa efeknya. Oleh karenanya, proses menuju kuliah lagi didahului dengan visi peran “Kepala Keluarga”. Ya, menikah dulu.
Lantas apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Pertama, jelas berlandaskan ML 2012 bahwa tahun ini targetnya “Kepala Keluarga (KK)” dan kuliah lagi apa kerja dulu merupakan “next step 2008-2011″. Kedua, menjadi “Kepala Keluarga” juga memiliki kewajiban untuk menafkahi. Oleh karena itu, harapannya kewajiban secara materiil dapat dipenuhi dengan kerja. Ketiga, mau tidak mau salah satu syarat SBG adalah memiliki keilmuan dan pengalaman di bidang terkait. Sehingga kerja dulu atau kerja nanti fokusnya tetap ML 2012 (diniatkan karena Allah SWT, tentunya).
Pertanyaannya, kerja model apakah? ini dia, perlu standar yang mengarahkan pada pemenuhan misi KK dan SBG. Apakah standarnya? Pertama, jelas berpenghasilan bukan “kerja bakti”. Kedua, selaras dengan keilmuan yang pernah, sedang dan akan didalami (teknik kimia) alias ada nilai implementatif wawasan keilmuan. Ketiga, tidak mengganggu hubungan dan peranan sebagai KK maupun sebagai anak dan saudara.
Itu saja, semoga menjadi jawaban atas kebingungan. Karena mengenali masalah itu adalah bagian dari penyelesaian masalah itu sendiri. Just Do The Best.





No Comments
Leave a Comment
trackback address