dari Dewi Yuhana: “suamiku mau kawin lagi”

“Nggak ada angin, nggak ada hujan, suamiku mau kawin lagi”

SMS singkat itu ditunjukkan teman sekantor tadi sore. Bukan bercerita tentang dirinya, tapi SMS kiriman dari seorang sahabatnya di Indramayu. Kepadaku, rekan samping mejaku itu mengaku kaget!. Menurutnya, selama ini ia selalu mendapat SMS bernada hepi, ceria, dan bahagia. Tak sekalipun sahabatnya itu mengeluh atau bercerita tentang permasalahan rumah tangga.

Usai menunjukkan SMS itu, ia langsung mereply “Oalah, lha wong sek mlarat ae kok suamimu itu sudah mau kawin lagi to?!”, yang ternyata langsung mendapat balasan cepat.

“Nah, itu dia. Perempuan itu ndak ngeliat harta suamiku. Dia mengaku pengin jadi istri kedua karena mengharap ridhoku, duuuuh…..”

Woww!!, speechless. Terus terang, kali ini saya tak dapat berkomentar banyak atas peristiwa yang dialami sahabat temanku. Untuk menuliskannya di sinipun, saya harus berpikir berkali-kali. Tulis, enggak, tulis, enggak, dan….tulis.

Peristiwa ini, mengingatkan saya akan cerita Istana Kedua yang endingnya membuat air mata saya berebut keluar. Hanya, kali ini cerita tersebut adalah kejadian nyata, bukan fiksi, apalagi dongeng rekaan dan khayalan. Di posting sebelumnya, saya pernah menulis sedikit review tentang buku ‘Bahagia dengan Satu Istri’. Meski terus terang tulisan tersebut belum dapat dikatakan sebagai sebuah review sebab saya memang belum membaca buku tersebut. Tulisan itu hanya berdasarkan berita feature di Jawa Pos dan topik yang sering menghiasi infotainment (kala itu).

Saya bukan penentang dan anti poligami. Hanya berharap agar keputusan untuk berpoligami benar-benar didasari atas pertimbangan matang dari berbagai aspek, mulai dari segi agama, ekonomi, psikologi, dan lainnya. Tidak atas dasar alasan ‘emosional’ untuk menjalankan sunnah dan keinginan mendapat jalan ke surga. Sebab Yang Maha Agung, Sang Pemberi kasih dan cinta tanpa batas, Allah SWT, bukan Tuhan yang egois dengan mensyaratkan hamba-Nya untuk berpoligami agar menjadi para penghuni surga.

Atas izin-Nya, kaum pria diperbolehkan untuk menikahi dua, tiga, hingga empat wanita. Karena janji-Nya yang akan memberikan surga bagi kaum hawa yang rela untuk dipoligami, membuat para istri pertama berebut mencarikan calon istri kedua untuk sang suami, dan perempuan-perempuan lain menekan ego serta meminta dijadikan pemilik ‘istana kedua’ seperti perempuan yang membuat sahabat temanku memutuskan untuk mengirimkan SMS tersebut.

Saat saya menulis harus memikirkan aspek ekonomi, Anda mungkin akan langsung membantah. “Ah, rezeki sudah diatur oleh Allah. Jika Dia berkehendak, maka aliran rezeki akan terus kita rasakan, min haisu la yahtasib“.

Saya tidak memungkiri, dan tak akan pernah berani menentang ketentuan Allah tentang rezeki. Dia berhaka memberikan limpahan rezeki kepada siapapun, hambaNya yang terpilih. Tapi seperti yang pernah saya tulis (juga) sebelumnya, Kun Fa Yakun milik Allah bukan untuk menciptakan manusia pemalas. Rezeki tak akan datang tiba-tiba, seperti hujan deras yang turun dari langit. Rezeki harus dicari, dengan tetesan keringat, perencanaan, dan perhitungan matang.

Janji surga, tak menutup kemungkinan berubah menjadi neraka, jika hambaNya tak mampu menjalankan amanah sesuai apa yang diinginkanNya. Allah Maha Pengasih dan Penyayang… Relakah Dia, jika ada umatnya yang tak berdosa, manusia-manusia baru, yang terlahir dengan kondisi kekurangan, teraniaya, tak mendapatkan haknya karena sang ayah memutuskan berpoligami.

Akan diamkah Allah, saat melihat hambaNya tertekan secara psikologis, tak dapat mengeksplorasi kemampuan dan keterampilan secara optimal akibat suasana keluarga yang tak kondusif?. Seorang hamba yang dalam perjalanan hidupnya harus terjerumus ke lembah pergaulan bebas sebagai imbas pemberontakan atas realitas keluarga yang tak sesuai harapan?

Ada yang seharusnya kita ingat. Selain janji surga, Allah juga memerintahkan kepada para kepala keluarga untuk selalu menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Nah, jika slogan baiti jannati berubah menjadi rumahku, nerakaku, apakah janji surga tetap akan Dia berikan begitu saja? wallahu a’lam bishawab.


  1. qolbi

    bagaimana pandangan sorang ulama besar seperti Buya HAMKA tentang poligami??/
    ternyata masa lalu jadi basis utk bertindak dimasa yg akan datang…

    http://qolbimuth.wordpress.com/2008/03/09/poligami/

Leave a Comment